Saturday, December 20, 2008

kastunik..kastunik

suatu siang di Februari 2008.
Telepon rumah berdering seperti palu menghantam kepalaku. Aku terperanjat dari lamunanku akan konser Linkin Park. Yah, at least, aku bisa dengerin lewat CD..Aku beranjak dengan malas dan mengangkat mesin bising satu itu.
"hELLO...bisa cakap dengan Anita..." suara aneh dari seberang yg gak pernah aku dengar.
"Yah, who is this??" aku jawab dg malas juga.
"Hai... ini Tunik, lupa ya...baru sekejap jg suda lupa ni.."
Alammak......
Dia kastunik. Dia lulusan SD yang entah dari mana dapat ijasah SMP agar bisa bekerja di Singapura, jadi pembokat. Orangnya agak hitam, kurus, polos, dan apa adanya. Satu hal yg aku suka darinya, dia pandai pijit, hmmm.. Dia dua bersaudara, kakaknya sudah menikah dan hidup dengan suaminya. Ayahnya... pergi selamanya sejak dia SD. Ibunya.. dia sendiri bingung, kadang ibunya ada di tuban, kadang di Surabaya. Semua tak pasti karena mereka tidak punya tempat tinggal. Sejak kelas 5 SD dia hidup bekerja dengan orang, menjaga anak, menjadi buruh tani, kerja apa saja asal perut bisa terisi. Setelah bangkrut dengan warung kopi kakaknya, dia memutuskan untuk mengadu nasib ke luar negeri. Singapura menjadi tujuannya kali ini.
Di Elkarimlah aku bertemu dengan dia. Berbeda dengan wajah2 cerah anak kampus yang bermake-up cantik, berparfum wangi..bercelana jeans levi's dan berT-shirt Esprit, menenteng buku, HP, laptop, n snack.. Bersendagurau di depan kelas mengharap dosen datang 30 menit sebelum kelas berakhir atau dicancell sekalian. Berwawasan luas, pandai berdebat (sampai presiden baru terpilihpun sudah memperdebatkan pemilu yg akan datang), berotak cemerlang, berjidat kinclong... (banyakan peeling kale..)
Kastunik siang itu berkemeja coklat lusuh, bercelana hitam dan menenteng bag coklat, lusuh juga.. Rambutnya sebahu (yg nantinya akn dipotong habis), diikat seaadanya, polos..
Dia duduk di pojok ruangan belajar dan tidur untuk para calon TKW ke Singapura. Di ruang inilah semua cerita dan jeritan hidup para wanita mengalir..cerita yang tak akan aku temui di kampus. Jeritan hidup wanita2 yang ingin maju di tengah keterbatasan uang, kemampuan, pendidikan, dan tekanan hidup.
Kastunik yg lugu, punya satu impian: membangun rumah untuk ibu dan dia tinggal..Gadis desa yang mempunyai harapan merubah hidupnya, hidup orang yang dicintainya, ibunya.. Mendengarkan ceritanya seolah mendapatkan pukulan, cambukan yang tak hanya membuatku sakit, tapi malu. Kisahnya sebagai keluarga miskin, terhina, tak dianggap mereka ada, dan tercampak di desa pedalaman Tuban.
Lalu ditunjukkan sesuatu padaku malam itu. "Nit, mau liat?" Dia buka kancing baju teratasnya, meraih tanganku dan meletakkannya di dada kiri atasnya.
"Raba, rasa.."
Astaghfirullah.. ada benjolan aneh sebesar isi nangka disana.
"Sssst... " dia taruh jari telunjuk diatas bibirnya karena melihat mulutku yg menganga.
"Alhamdulillah, aku lolos, dokter di klinik gak periksa sampai sini.."
"Gak sakit Nik?" tanyaku.
"Gak juga, cuma kadang ada rasa sengal..atau nut-nut.., tapi kadang gak rasa apa2.."
Aku tatap muka dia yg polos, tanpa ekspresi sedih bahkan tak nampak dia berpikir. Aku malu pada dunia ini. Aku yang masih sering mengeluh dengan semua yang aku dapatkan, mengumpat pada Tuhan karena merasa diperlakukan tak adil, meluapkan emosiku karena kekecewaanku. Aku malu.. Sedangkan si polos ini, hanya punya satu impian, buatkan tempat tinggal untuk ibunya dan dia.. Si polos ini, tetap tersenyum di pagi hari... Si polos ini, Tuhan...
"Nit, udah yoo... aku mau masak, ntar kapan2 disambung lagi.. eh, CD mu masih tak simpan loh, kalo aku kangen, bisa tak ciumin... bye.. pren... (Friend..)" telepon ditutup dari seberang. Tunik...tunik.. hanya duit 50 ribu dan celana dalam yang aku kasih untuk dia sebeluma aku tinggalkan Elkarim. Itupun karena aku tak diijinkan bawa duit rupiah and cd dia kabur dibawa angin. Andai aku bisa berbuat lebih untuk dia....

No comments:

Post a Comment

In a nut shell

Jika Allah yang menolong kamu, maka tiadalah yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak menolongmu)maka siapakah yang dapat menolong kamu selain Allah. -Ali Imran 160