Saturday, December 20, 2008

Cerita Hasan pada Umar (read: aku cinta istriku)

Suatu hari Umar yang sudah remaja duduk berdua dengan abinya di beranda rumah. Mereka menikmati pisang goreng dan teh hangat yang dibuat oleh sang abi, Hasan untuk cemilan sore itu. Begitulah mereka, ketika liburan pesantren Umar mereka akan menghabiskan waktu berdua, mengenang sang ummi, bercerita tentang cita2 Umar, dan sebagainya. Sore itu, Hasan mengulas perbedaan pesantren jadulnya dengan pesantren jaman baru, pesantren modern Umar.
Begini menurut Hasan bedanya:
Pesantren jadul Hasan hanya berpagar bambu dan tumbuhan liar, sehingga sangat mudah bagi para santrinya keluar masuk pondok, pergi ke rumah orang kampung, atau memetik sayuran untuk makan mereka. Pesantren jabar Umar bertembok tinggi menjulang, membatasi ruang antara kaum intelek islami di dalamnya dengan warga sekitar pondok, tak seorang pun santri bisa keluar seenaknya.
Pesantren jadul Hasan, para santrinya lebih suka memakai sarung daripada celana panjang. Sebenarnya bukan lebih suka, tapi karena pakai sarung lebih murah, serba guna, dan tahan lama (kayak iklan baterei aja..). Selain tentunya sangat "casual" bagi para santri jaman jadul Hasan (more than sual..). Pesantren jabar Umar, lain lagi. Santri2nya necis, berbau segar, rapih dan tentu berambut pendek, rapi juga. (Jangan salah sangka, kadang rambut pendek atau gundul ini, terjadi karena terpaksa, menggunakan bahasa selain Inggris di pesantren.. aneh)
Pesantren jadul Hasan, para santrinya hanya pulang sekitar 6 bulan sekali, bahkan ada yang pulang hanya setahun sekali, atau tak pulang sampai mereka merasa cukup ilmu untuk pulang. Pesantren jabar Umar, mengijinkan keluar para santrinya (atau pulang) pada jum'at setelah dzuhur. Jadi jangan heran kalau kita akan melihat para santri dengan seragamnya berambut pendek, baju rapih, bau sedap dan segar, berjalan mondar mandir di sekitar pusat perbelanjaan atau di toko2 buku, berbahasa Inggris dan Arab tentunya, yang entah orang awam tak paham mendengarnya.
Pesantren jadul Hasan, para santrinya suka makan bersama2..dalam wadah sama, hasil masak bersama, dan cari sayur bersama di kebun. Mereka makan nasi liwet anget, dengan kulupan hasil ngramban tadi, dipadu dengan sambal bawang (nyambelnya pake baca al-kautsar katanya..) ditetesi jelantah ikan gerih kemarin (sisa minyak goreng ikan asin,jangan buat minyak rambut, rubung semut!), hm.. Subhanallah.. nikmat. Pesantren jabar Umar, makannya dimasakkan asrama pondok. Empat sehat (lima sempurnanya buat sendiri2..)tercukupi dengan baik, kadang para orang tua mengirimkan lauk sate ayam, gulai kambing, steak, spaghetti, KFC (Ayamnya bang Fred katanya.. hehe..). Mereka makan dibangku sendiri2..dalam wadah sendiri2..kadang dengan lauk yg istimewa sendiri2..
Pesantren jadul Hasan setiap juma'at pagi, sebelum sholat jum'at, para santrinya keluar pondok, ke jalan2 kampung, ikutan ro'an alias gugur gunung ato apalah istilahnya, jadi bisa dapat makanan gratis dari pak RT. Pesantren jabar Umar, jum'at pagi melakukan debat bahasa Inggris tentang teknologi terbaru dalam dunia komunukasi, tentunya sebelum mereka bisa keluar setelah sholat jum'at dan hunting barang baru.
Pesantren jadul Hasan adalah bangunan tua sederhana,jadi kalau ada atap bocor, yah merekala, para santri yang panjat dan gantikan atap itu, betulkan saluran air, bahkan buat sumur dan WC sendiri. Pesantren jadul Umar, merupakan bangunan beton anti gempa, anti nuklir malah.. Proyeknya menelan dana Trilyunan, indah dan megah. Dan tentunya, iuran dari para orang tua juga mewah dan megah, makin banyak sumbangan yang diberikan orang tua santri, makin tinggilah self esteem santri itu, habisnya.. kontribusi menentukan kemampuan unjuk gusi...
Pesantren jadul Hasan, tidurnya di lantai tegel, dengan tikar plastik, kalo g ada ya tikar pandan atau mendong. Berbantal bantal kapuk randu yang kalau ditepuk, bukk.. blushhh.. apeknya minta ampun. Kadang isi randunya mojok di bantal, jadi geli2 aneh kalau dipakai tidur.. Hamdulillah, itulah yang membangunkan mereka sebelum cahaya dan lebih memilih bersujud di lantai musholla. Pesantren jabar Uamar, tidur dengan alat tidur yang lengkap, seperti di rumah, cuma bedanya, mereka tidur dalam barak, banyak teman. Bangun mereka karena bel atau alarm pondok yang dibunyikan kuat2..
Pesantren jadul Hasan, para santrinya hanya mengambil foto mereka saat pendaftaran santri baru dan saat akhirussanah.. Biasanya gratis. Atau.. saatlebaran bareng2 dirumah Abah Yai, karena banyak orang datang sowan. Pesantren jabar Umar... foto para santrinya... terjejer dengan indah di account :Friendster.com. wakakakaakk....
Umar, ini hanya masalah perbedaan waktu anakku. Abi hanya mengingatkan, walaupun kamu sekarang berada di dalam tembok menjulang tinggi pesantren modern, jaga segala kesederhanaan yang membawa nikmat itu. Jangan berlebihan terikut dalam arus kemajuan jaman sekarang, mengikuti itu wajib, tapi tidak harus masuk dalam jeram kan? Meski sekarang musim junk food, abi gak mau kamu jadi junk generation.. Jadi pemimpin yang baik, inget pesen ummi, jadi imam yg bisa diingatkan.. Ummi akan bangga padamu..

No comments:

Post a Comment

In a nut shell

Jika Allah yang menolong kamu, maka tiadalah yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak menolongmu)maka siapakah yang dapat menolong kamu selain Allah. -Ali Imran 160